Kurikulum 2013 segera diimplementasikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada bulan Juli 2013 dengan tujuan memperkaya materi sains yang diperoleh siswa. Namun, sebagian pihak baik dari dalam maupun luar Kemendikbud menanggapi perubahan tersebut dengan kaget, penolakan, bahkan sedikit amarah yang ditujukan pada para petinggi Kemendikbud yang menangani Kurikulum 2013. Beberapa kritisi menduga bahwa anggaran perubahan kurikulum yang bernilai triliunan lah yang memicu implementasi kurikulum baru dengan segala ketidaksempurnaannya. Isu perubahan kurikulum sebagai lahan ‘basah’ potensial bagi koruptor di dunia pendidikan juga tidak lepas dari penilaian masyarakat.
Salah satu perubahan positif yang diharapkan dari implementasi kurikulum 2013 adalah peningkatan materi sains dalam kegiatan belajar mengajar melalui suatu pembelajaran yang bersifat tematik integratif. Dalam pembelajaran tematik integratif, buku-buku siswa SD tidak lagi dibuat berdasarkan mata pelajaran, tetapi berdasarkan tema yang merupakan gabungan dari beberapa mata pelajaran yang relevan dengan kompetensi di SD. Menurut Yohanes Surya, pelajaran IPA sebaiknya menjadi mata pelajaran tersendiri, setidaknya sejak kelas IV SD. Langkah ini dinilai penting untuk menumbuhkan minat dan kecintaan siswa sejak dini pada bidang sains
Namun di sisi lain, beberapa pengamat pendidikan menilai bahwa penerapan kurikulum 2013 belum matang dan akan menimbulkan berbagai masalah. Menurut Hartini Nara, M.Si, beberapa masalah mendasar Kurikulum 2013 antara lain:
Permasalahan mendasar Kurikulum 2013
1. Tidak melalui riset dan evaluasi yang mendalam
2. Menitikberatkan siswa
3. Ketidaksiapan guru karena terkesan mendadak
4. Tematik lebih cocok di kelas dasar
5. Tidak memperhatikan konteks sosiologis ke-Indonesiaan
Selain itu, jumlah jam yang ditambah sampai 36 jam pada tingkat SD justru menimbulkan potensi masalah yang besar jika tidak didukung dengan fasilitas yang memadai.


0 komentar:
Posting Komentar